Dear blog,
Malam ini terasa gamang di hati saya. halah! Saya sedang leyeh-leyeh di atas tempat tidur sambil mengaktifkan layanan internet dari hape lawas saya. Tiba-tiba temen mengirimkan pesan melalui grup wa. Katanya: ”Selamat kepada Ibu Susi Pudjiastuti yang diangkat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan. Tingggg...!!!!
Perkara siapa menterinya memang tidak jadi soal buat saya. Buat saya itu masalah ”bendera”. Integritas-profesionalisme-smart mungkin hanya bonus.
” Terus kenapa mesti gamang, ly?”: hati saya berseru.
Okey begini yah. Saya bukan penggemar atau sebaliknya dari Ibu nyentrik yang satu ini. Seingat saya, sewaktu praktek integrasi di Pangandaran pertengahan 2005, beliau terlihat ”impressive” waktu itu. Rambut bondol, badan ceking, kulit tanning, perokok dan bertato. Beruntung beliau punya suami tegap nan ganteng dan putri bule nan menawan. Waktu itu, berdasarkan cerita pegawai-pegawai perusahaan, beliau memang tak tamat SMA pun. Betul, membangun lingkaran bisnisnya, dari mulai menjadi pengepul ikan di TPI Pangandaran. Akhirnya, berhasil membangun perusahaan ASI Pudjiastuti tempat saya praktek 1,5 bulan waktu itu. Mengesankan bukan.
Menjadi Menteri KKP di Kabinet Kerja bentukan Jokowi –JK mungkin terlihat ”out of the box”. Punya menteri tak lulus SMA, apa tak bikin galau yang lagi nulis disertasi. #kabur.
Kita skip bagian ini dulu!
Yang mau saya catat dalam rangkaian perjalanan hidup saya adalah :”bersiaplah ly, siapa tau 20 tahun lagi kesempatan itu menghampiri”.
Saya yakin hampir setiap otang tahu akan jalan untuk meraih kesuksesan atas apa yang diimpikan. Akan tetapi, tantangannya adalah kadangkala kita tidak sungguh-sungguh dalam meng-eksekusi mimpi kita itu. Tak mau berjuang sampai berdarah-darah apalagi. Okey ambil contoh paling gampang, semua taruna tahu bahwa untuk mendapatkan IPK terbaik dia harus : mengerjakan tugas dari dosen dengan sungguh-sungguh, belajar dengan tekun, kuliah tidak mengantuk, bersikap sopan dan hormat pada dosennya. Nah, tantangan terbesarnya adalah: malas, ngantuk dan tidak memotivasi dirinya. Ketika taruna lain bersusah payah mengerjakan praktikum yang ribet, membuat laporan di malam hari, dia hanya menyontek praktikum temannya atau senior yang lalu, persis!. Hasilnya kita sudah pastikan seperti apa.
Saya pernah baca blog adik tingkat saya, Rifki Furqan tentang kesiapan dan kesempatan. Kesiapan diri untuk setiap kesempatan yang menghampiri. Kita tidak pernah tau kapan kesempatan akan datang. Begitulah cara saya untuk mulai mengurai mimpi-mimpi saya. Sedapat mungkin untuk berusaha menunjukkan yang terbaik, siap menerima kesempatan. Memulai untuk konsisten dengan apa yang saya kerjakan saat ini. Saya yakin, proses yang ”baik” akan menghantarkan kita pada situasi yang terbaik di masa depan, akan datang. Walau kadang tidak selalu sama dengan apa yang diharapkan memang. Sebagai Taruna yang menginginkan untuk bisa membuka lahan bisnis perikanan dalam memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015, maka sudah wajib hukumnya untuk mempersiapkan kemampuan bahasa inggris sejak awal, menambah wawasan dengan cara mengakrabkan diri dengan informasi dari network/internet.
”The world of tomorrow belongs to those who can process information, see relationship and trends, and be agile and responsive to change as the world changes” –Robert T Kiyosaki (Why “A” Students Work for “C” Students, and “B” Students work for the Goverment). Ini mungkin stereotype, bahwa anak-anak jenius ”A Students”hanya akan bekerja “aman”. Kadang kita tidak cukup menjadi hebat saja, tetapi harus terus berkembang agar mereka yang jenius juga mampu menghadapi dunia esok. Saya tunggu anak-anak hebat bangsa ini untuk mulai bergerak, setidaknya Bu Susi Pudjiastuti sudah membuktikan. Perlu kerja keras, komunikatif dan meningkatkan kapasitas diri untuk masa depan yang bermartabat.
”Gimana perasaannya setelah nulis ini, ly?” Ujar lagi dalam hati.
Bersiap! Periode ini milik Ibu Menteri nyentrik itu, tapi periode nanti milik saya! Amin.....
Sampai ketemu di anak tangga yang paling ujung yah. Hanya mereka yang sunguh-sungguh yang bisa sampai disana, either A Students or even C Students.
Fighting
Showing posts with label me time.... Show all posts
Showing posts with label me time.... Show all posts
October 27, 2014
March 07, 2013
Masih tentang, kamu!
Guratan wajahmu masih nyata di ujung ingatan.
Jelas, tanpa cacat.
Tatapan tajam apalagi, tak pernah lekang, sekuat apa aku menjauhkannya.
Kamu, lelaki di masa keremajaan, masihkah ada jawab bila kutanya.
Satu masa, kala semesta bertindak.
Tanpa isyarat.
Aku, akan menunggu tanpa lelah.
Meski tak berpunya, kita.
Tak mengapa!
Ini akhirnya, terakhir.
Isyarat tak cukup nyali.
Kamu, tak tergapai. Tak peduli, mungkin.
Aku, menunggu hati, penuh tak tersakiti.
Meski, tak mengapa!
Jelas, tanpa cacat.
Tatapan tajam apalagi, tak pernah lekang, sekuat apa aku menjauhkannya.
Kamu, lelaki di masa keremajaan, masihkah ada jawab bila kutanya.
Satu masa, kala semesta bertindak.
Tanpa isyarat.
Aku, akan menunggu tanpa lelah.
Meski tak berpunya, kita.
Tak mengapa!
Ini akhirnya, terakhir.
Isyarat tak cukup nyali.
Kamu, tak tergapai. Tak peduli, mungkin.
Aku, menunggu hati, penuh tak tersakiti.
Meski, tak mengapa!
Categories
fiksi,
me time...
February 22, 2013
Rectoverso, itu kamu!
Film ini dimulai dengan kisah Abang, seorang autis. Hidup sebagai anak dari pemilik ibu kost, bunda! Abang sebagai juru laundry bagi penghuni kost. Oh yah, kesenangannya selain bermain biola, Beethoven-Mozart atau sebut saja lainnya, Abang juga hobi membentuk piramida dari kotak sabun. Leia, penghuni kost yang cantik dan paling bisa mengerti Abang, sekaligus wanita yang dicintai Abang. Utuh, bukan hanya dengan HATI, tapi juga JIWA. Hans, pria muda-menarik-tertarik pada wanita yang sama. Leia, juga-sama! Cepat atau lambat, sekarang atau nanti tidak akan pernah ada dalam struktur pikiran Abang. Leia, memilih pergi. Seseorang untuk Abang baik sekarang, nanti, atau entahlah… semoga semesta mendukung!
Senja, gadis yang memiliki “kelebihan”. Memilih bergabung dengan klub “Firasat”, dengan harapan agar bisa menepis rasa takut, rasa bersalah ada “pertanda” yang muncul dalam mimpinya. Panca, lelaki yang diam-diam dicintai, poros senja. Mereka yakin dengan firasat masing-masing, meski menyakitkan-perih! Baik Panca maupun Senja, belajar menerima. Hanya itu…. semoga semesta mendukung!
Cicak, hewan lucu favorit Taja, sang seniman. Jatuh cinta pada wanita yang lebih tua, luruh pada magnet cinta milik Saras! Taja, belajar menerima. Pahit, sepahit kopi yang selalu disesapnya. Taja percaya, tiap teguk yang pahit akan memberikan pelajaran, bahwa masih ada manis yang mesti dirasakan. Mungkin bukan sekarang. Mungkin juga bukan dengan Saras… semoga semesta mendukung!
Ceria, supel, penuh tawa adalah gambaran seorang Amanda, sahabat Reggie. Persahabatan beda generasi, beda arus hidup. Mereka berbagi banyak hal, cinta misalnya. Cinta seorang Amanda, yang tersiakan oleh pria yang selalu memintanya untuk sempurna. Meski tak mungkin. Reggie menjadi pertahanan Amanda, benteng hidup yang selalu ada buatnya, tanpa pamrih. Amanda dan Reggie menjalaninya dengan ikhlas…semoga semesta mendukung!
Cinta, persahabatan, keluarga, perjalanan hidup…bukan lagi tujuan seorang Raga. Salah satu dari 5 sahabat yang hobi berpetualang, backpackers. Al, perempuan satu-satunya dalam kelompok itu menerima kenyataan bahwa lelaki yang dicintainya, hanya mencintai keabadian-ketenangan, Raga! Menerima bahwa cinta tak harus memiliki membuat Al cukup bahagia. Bahwa akhirnya dia bisa tau warna mata Raga, selain siluet punggungnya. Baik Al, baik Raga akan terus menemukan mercusuar-nya, masing-masing… semoga semesta mendukung!
Terimakasih semesta...
semoga saya yang masih sombong ini bisa kembali memahami bahasa alam...menemukan kebahagian yang sejati.
Menjadikan hidup, adalah anugrah...perjalanan!!
Love,
-uLLy- Love
Senja, gadis yang memiliki “kelebihan”. Memilih bergabung dengan klub “Firasat”, dengan harapan agar bisa menepis rasa takut, rasa bersalah ada “pertanda” yang muncul dalam mimpinya. Panca, lelaki yang diam-diam dicintai, poros senja. Mereka yakin dengan firasat masing-masing, meski menyakitkan-perih! Baik Panca maupun Senja, belajar menerima. Hanya itu…. semoga semesta mendukung!
Cicak, hewan lucu favorit Taja, sang seniman. Jatuh cinta pada wanita yang lebih tua, luruh pada magnet cinta milik Saras! Taja, belajar menerima. Pahit, sepahit kopi yang selalu disesapnya. Taja percaya, tiap teguk yang pahit akan memberikan pelajaran, bahwa masih ada manis yang mesti dirasakan. Mungkin bukan sekarang. Mungkin juga bukan dengan Saras… semoga semesta mendukung!
Ceria, supel, penuh tawa adalah gambaran seorang Amanda, sahabat Reggie. Persahabatan beda generasi, beda arus hidup. Mereka berbagi banyak hal, cinta misalnya. Cinta seorang Amanda, yang tersiakan oleh pria yang selalu memintanya untuk sempurna. Meski tak mungkin. Reggie menjadi pertahanan Amanda, benteng hidup yang selalu ada buatnya, tanpa pamrih. Amanda dan Reggie menjalaninya dengan ikhlas…semoga semesta mendukung!
Cinta, persahabatan, keluarga, perjalanan hidup…bukan lagi tujuan seorang Raga. Salah satu dari 5 sahabat yang hobi berpetualang, backpackers. Al, perempuan satu-satunya dalam kelompok itu menerima kenyataan bahwa lelaki yang dicintainya, hanya mencintai keabadian-ketenangan, Raga! Menerima bahwa cinta tak harus memiliki membuat Al cukup bahagia. Bahwa akhirnya dia bisa tau warna mata Raga, selain siluet punggungnya. Baik Al, baik Raga akan terus menemukan mercusuar-nya, masing-masing… semoga semesta mendukung!
Terimakasih semesta...
semoga saya yang masih sombong ini bisa kembali memahami bahasa alam...menemukan kebahagian yang sejati.
Menjadikan hidup, adalah anugrah...perjalanan!!
Love,
-uLLy- Love
Categories
diary,
me time...
December 07, 2012
Selfnote-part I
Padang, 07 Desember 2012.
I expect a lot of people
Pagi ini saya sedang berlari mengejar penerbangan paling awal ke Padang. Pagi yang membuat saya mengantuk sangat terlalu. Betapa tidak, minggu-minggu terakhir ini saya dijejali dengan deadline-jadwal ngajar-praktek-sampai proyek akhir tahun yang semuanya minta diladeni tepat waktu. Belum lagi weekend kemaren harus dilewatkan di kota sejuta empek-empek Palembang, hanya sekedar untuk menghadiri hari bahagia abang sepupu saya. Moment kumpul keluarga yang mungkin sudah hampir punah, sejak ritual “pulang kampung” tidak lagi menjadi hal yang ditunggu-tunggu. Taadddaaa…. what a life!
Weekend ini mesti dihabiskan di Kota yang terkenal akan Jam Gadang-nya. Well, memang ini bukan travelling for pleasure seperti orang kebanyakan yang punya sisa untuk dipakai liburan dari satu tempat ke tempat lain. Bagi saya ini jauh dari pleasure, ini experience, jangan tanya kenapa? saya jawab “priceless…” Begitu juga dengan hidup yang saya jalani. Semua on the track-nya Tuhan, BUKAN saya. Sungguh ini berkat yang tidak ada henti-hentinya. Saya ketemu dengan banyak orang, mengenal lebih banyak karakter-bentukan pribadi yang beragam-macam, menata kehidupan emotional dan spiritual saya dan mencoba melakukan apa yang saya bisa, semampunya; sekuatnya; se-ikhlasnya.
Hari ini saya kembali diingatkan bahwa segala sesuatu terjadi bukan karena kebetulan tapi karena ada alasan kenapa itu bisa/harus terjadi. Saya menikmatinya. Teman saya pernah bilang: “Apa ga capek mesti complaining tentang banyak hal??”. Saya sambil nyengir suka ngasal: “Mesti ada bedanya orang yang sudah baca buku banyak, pergi ke banyak tempat, ketemu banyak orang, dan sudah makin berumur seperti ini, masih juga ga bisa menyatakan mana yang benar-mana yang salah, atau mana yang nyari masalah, itu namanya kebangetan!!” Saya pernah baca salah satu tulisan Bung Dahlan Iskan yang menurutnya manusia itu sebenarnya sudah dibakali dengan “otak” yang mestinya bisa membantunya untuk mengembangkan kualitas diri, bukan malah menyimpan potensi otak. Try many things, You’ll find the answers.
Tahun ini saya sedang mengerjakan proyek bersama seorang konsultan. Garis bawahi yah, saa pendamping saja. Mesti nemenin kemana ajah beliau pergi, meladeni komplen beliau tentang banyak hal, memutar otak untuk bisa mulai merasakan satu persatu dunia baru ini. Konsultan-seorang profesional,perfeksionis dan berselera. Gila yah, seorang abdi negara mesti mengikuti ritme yang begitu amat menuntut, mendikte bahkan sesekali mencela bila saya melakukan aksi-aksi tolol bin konyol. Saya menikmati (lagi).
Satu hal yang bisa saya ambil dari perjalanan setahun yang penuh pengalaman ini adalah : belajar dari orang. Manusia adalah objek paling tepat sebagai tempat belajar. Saya mengerti banyak, meski perlahan. Hari ini, mungkin last destination kami untuk tahun ini. Saya ga tau tahun depan pengalaman apa lagi yang Tuhan sudah rencanakan buat saya. Mudah-mudahan "rencana menikah" ini bisa di acc yah Tuhan. Saya menunggu last call dari Tuhan, sama seperti crew yang mulai memanggil2 nomor penerbangan kami menuju Padang pagi ini.
To be continued,.. Love, -uLLy-
I expect a lot of people
Pagi ini saya sedang berlari mengejar penerbangan paling awal ke Padang. Pagi yang membuat saya mengantuk sangat terlalu. Betapa tidak, minggu-minggu terakhir ini saya dijejali dengan deadline-jadwal ngajar-praktek-sampai proyek akhir tahun yang semuanya minta diladeni tepat waktu. Belum lagi weekend kemaren harus dilewatkan di kota sejuta empek-empek Palembang, hanya sekedar untuk menghadiri hari bahagia abang sepupu saya. Moment kumpul keluarga yang mungkin sudah hampir punah, sejak ritual “pulang kampung” tidak lagi menjadi hal yang ditunggu-tunggu. Taadddaaa…. what a life!
Weekend ini mesti dihabiskan di Kota yang terkenal akan Jam Gadang-nya. Well, memang ini bukan travelling for pleasure seperti orang kebanyakan yang punya sisa untuk dipakai liburan dari satu tempat ke tempat lain. Bagi saya ini jauh dari pleasure, ini experience, jangan tanya kenapa? saya jawab “priceless…” Begitu juga dengan hidup yang saya jalani. Semua on the track-nya Tuhan, BUKAN saya. Sungguh ini berkat yang tidak ada henti-hentinya. Saya ketemu dengan banyak orang, mengenal lebih banyak karakter-bentukan pribadi yang beragam-macam, menata kehidupan emotional dan spiritual saya dan mencoba melakukan apa yang saya bisa, semampunya; sekuatnya; se-ikhlasnya.
Hari ini saya kembali diingatkan bahwa segala sesuatu terjadi bukan karena kebetulan tapi karena ada alasan kenapa itu bisa/harus terjadi. Saya menikmatinya. Teman saya pernah bilang: “Apa ga capek mesti complaining tentang banyak hal??”. Saya sambil nyengir suka ngasal: “Mesti ada bedanya orang yang sudah baca buku banyak, pergi ke banyak tempat, ketemu banyak orang, dan sudah makin berumur seperti ini, masih juga ga bisa menyatakan mana yang benar-mana yang salah, atau mana yang nyari masalah, itu namanya kebangetan!!” Saya pernah baca salah satu tulisan Bung Dahlan Iskan yang menurutnya manusia itu sebenarnya sudah dibakali dengan “otak” yang mestinya bisa membantunya untuk mengembangkan kualitas diri, bukan malah menyimpan potensi otak. Try many things, You’ll find the answers.
Tahun ini saya sedang mengerjakan proyek bersama seorang konsultan. Garis bawahi yah, saa pendamping saja. Mesti nemenin kemana ajah beliau pergi, meladeni komplen beliau tentang banyak hal, memutar otak untuk bisa mulai merasakan satu persatu dunia baru ini. Konsultan-seorang profesional,perfeksionis dan berselera. Gila yah, seorang abdi negara mesti mengikuti ritme yang begitu amat menuntut, mendikte bahkan sesekali mencela bila saya melakukan aksi-aksi tolol bin konyol. Saya menikmati (lagi).
Satu hal yang bisa saya ambil dari perjalanan setahun yang penuh pengalaman ini adalah : belajar dari orang. Manusia adalah objek paling tepat sebagai tempat belajar. Saya mengerti banyak, meski perlahan. Hari ini, mungkin last destination kami untuk tahun ini. Saya ga tau tahun depan pengalaman apa lagi yang Tuhan sudah rencanakan buat saya. Mudah-mudahan "rencana menikah" ini bisa di acc yah Tuhan. Saya menunggu last call dari Tuhan, sama seperti crew yang mulai memanggil2 nomor penerbangan kami menuju Padang pagi ini.
To be continued,.. Love, -uLLy-
Categories
life isn't a suck,
me time...
April 06, 2012
After Sunday service’s story
Blame me, for neglecting my blog for so long. I lose so much appetizer of words, try to deny all the fact that I’m not a talented writer as I ever dreamt before.. poor me~~~

The other fact that I have to be humble to handle them for entire life maybe.. that I can’t be together with my real beloved-man for every Sunday-service. I’m happy that I’m not alone... yeah, true that my junior-mate face the same relationship-matter as I have. We’ve called us lucky for bearing this situation like this. We made a decision- we’ve going through- we’ve fighting for love- we’ve enjoying every single-things we had now.
Is this a true love-story?? we never know… we keep search for the answer as well…

after sunday service's habit
The other fact that I have to be humble to handle them for entire life maybe.. that I can’t be together with my real beloved-man for every Sunday-service. I’m happy that I’m not alone... yeah, true that my junior-mate face the same relationship-matter as I have. We’ve called us lucky for bearing this situation like this. We made a decision- we’ve going through- we’ve fighting for love- we’ve enjoying every single-things we had now.
Is this a true love-story?? we never know… we keep search for the answer as well…
Categories
life isn't a suck,
me time...
October 05, 2011
meet - break
Jika semua sudah tersurat, kenapa harus menjadi khawatir?
Perjalanan tentang “merasakan” arti hidup.
Tiap momen yang mendewasakan.
Berterimakasih untuk setiap “getaran cinta” yang masih peka terasa.
Menerima setiap kenyataan dengan kelegaan hati. Meski pahit terkadang.
Saya ingat seseorang yang pernah dengan sabar mengajari saya tentang “arti mencintai”.
Total. Penuh.
Sekarang saya baru tau. Paham, sepenuhnya.
Tak ada yang salah dengan mencinta, indah.
Tak pernah terpetakan. Tak pernah terencanakan.
Datang dan memporandakkan hati yang bahagia.
Sempurna.
*song background by Marcell Siahaan – Berhenti Berharap* -truly ga nyambung-
Perjalanan tentang “merasakan” arti hidup.
Tiap momen yang mendewasakan.
Berterimakasih untuk setiap “getaran cinta” yang masih peka terasa.
Menerima setiap kenyataan dengan kelegaan hati. Meski pahit terkadang.
Saya ingat seseorang yang pernah dengan sabar mengajari saya tentang “arti mencintai”.
Total. Penuh.
Sekarang saya baru tau. Paham, sepenuhnya.
Tak ada yang salah dengan mencinta, indah.
Tak pernah terpetakan. Tak pernah terencanakan.
Datang dan memporandakkan hati yang bahagia.
Sempurna.
Saat sadari:
Saya kaku, dia berlalu
*song background by Marcell Siahaan – Berhenti Berharap* -truly ga nyambung-
Categories
me time...
October 03, 2011
drifting...

#day 1 Madidihang 3 15 September 2011
Ini pagi pertama yang di kapal Madidihang, saya mencoba melongok melalui jendela satu-satunya dari kamar saya. Kapal masih labuh jangkar di Tanjung Priok. Rupanya tadi malam kami hanya bergerak dermaga Muara Baru ke tempat pengisian bahan bakar. Sempat saya perhatikan, disisi kanan-kiri kapal, banyak kapal-kapal besar yang juga diam, bergeming. Saya mencoba menikmati tiap detik yang saya lewati di sini. Membayangkan akan tinggal sementara selama 10 hari, membuat akal sehat saya bertekad untuk “betah”. Mengingat kebaikan crew kapal yang menyediakan kamar “VIP” yang mereka punya khusus buat saya. Aduh. Saya sampai ga enak hati kalau nantinya saya cuma bisa teronggok di tempat tidur. Mabok.
Malam yang tidak lelap memang, tapi apa boleh buat saya masih beradaptasi dengan goyangan lembut kapal ini. Bergegas dengan sisa tenaga yang masih ada saya langsung menuju dapur untuk segelas energ*n yang saya butuhkan. Sesempatnya pula saya berjalan mengelilingi kapal, sekedar mengetahui lorong-lorong dan tangga-tangga yang mungkin saya butuhkan untuk melarikan diri.*Yang ini versi naïf nya.
Secangkir energ*n penuh berpindah ke dalam perut. Sepersekian menit terasa nyaman, cuma kepala saya yang tak bisa diajak kompromi. Pusing. Dikuat-kuatin sambil ngetik, tadinya mencoba mengalihkan perhatian untuk menulis. Tekad saya adalah menulis diary selama 10 hari mengambang diatas air. Ternyata ga mudah, dan langsung saya ambil kantong plastik yang sudah disiapkan sejak dari rumah. Saya sukses muntah. Beres. Saya menghempaskan tubuh ke kasur. Stress.
Oke, ide menulis selama layar, GATOT a.k.a GAgal TOTal. Bagooss. Saya ngos-ngosan, tiap kali dipaksa makan oleh Mualim. Mulai dari Mualim yang paling cool, sampe Mualim yang paling peduli, turun tangan. Tetep ajah saya tepar. Puncaknya adalah hari ke 7, ulu hati rasanya sakit banget. Sukses saya minta ampun sama Kapten, minta pulang. What an achievement, instruktur payah. Ok, that’s the fact.
Satu-satunya yang bikin saya betah adalah, crew-nya super baik sekali. Berusaha menghibur, mulai dari bikin lawak, meresmikan saya sebagai anggota baru Genk N*ro, yang di Ketua-I oleh Pak Kamp*s, katanya versi baru –lintas gender-. Hahahahaa, gilakkkkkk…
Selama berlayar, tiap mereka bilang:”Laut meneduhkan, menghilangkan kepenatan”. Tiap kali mereka katanya rindu dengan Laut. Saya mencoba mencerna kata-kata itu. Kenyataannya berbalik dengan apa yang ada dibenak saya. Daratan-macet-mall- panas-berisik-polusi…. Semua itu ternyata telah menjadi “bagian hidup” saya, menyita perhatian saya. Lupa tentan: malam-sepi-bintang-laut-cahaya-sendiri. Saya terlalu sibuk dengan kehidupan sosialista dan pekerjaan yang menjenuhkan. Mereka benar tentang itu.
Dan, satu hal yang akan saya cemburui bila menjadi istri pelaut, bukan tentang dimana dia berada-sedang apa-bersama siapa? Tapi hanya ini, dengarkan. Saya cemburu dengan “laut tenang yang memukau”. Karena dipastikan, saya tak akan pernah mampu bersaing dengan indah-magis-teduh- yang ditawarkan laut. Dan berita bagusnya, saya ga pacaran sama pelaut, hahahhaaa..
Pasca layar yang mendebarkan, saya butuh waktu untuk bisa kembali normal lagi. Tubuh saya masih bereaksi aneh dengan bau tertentu dan merasa kurang nyaman. Lagi-lagi saya memang payah.
Anyway, saya berterimakasih untuk kesempatan ini. Saya banyak mengenali diri saya sendiri. Kami jadi tim yang baik selama 10 hari, that’s great. Dan senangnya, saya juga punya kesempatan mengenal sosok yang ternyata benar-benar mengubah prespektif saya tentang dia, walau sedikitttt, pissssssssss!!! U’re crush me for that second… hahhahaaaa… Freakin’ WEIRDDDDDDDDDDDD… lol
Ok, GONG-nya adalah… I need to regain myself strength by shopping…. Huaahhaaa.. *shoot me, plisss* BANGGG……
Categories
me time...
August 08, 2011
Minggu di bulan agustus...
Kembali nulis yang versi curhat edition, soalnya topik sepanjang masa tahun ini, saya deklarasikan saja malam ini.
Di beberapa bulan terakhir ini saya banyak mengalami kejadian yang penting dalam hidup saya.
Bagaimana menata hati saya akibat musibah pencurian yang terjadi, mengikuti sesi pencerahan dari kawan saya ga pernah bosen-bosennya beri semangat sampai-sampai saya bingung membedakan antara ikhlas dengan pasrah.(candaaaaa.. )
Bagaimana di minggu-minggu yang full kegiatan saya disiksa oleh berbagai emosi jiwa yang dengan sangat nyata tergambar dari muka yang semakin mengecil, *kalo saya sebut langs*ng, akan banyak cewek-cewek yang minta resep diet ke saya. Lol
Dan
Bagaimana saya bisa berterimakasih untuk umur yang tak lagi muda dan kesehatan sepanjang masa serta kerja keras yang tak pernah berhenti. And I was happy spending this weekend with watching Korean drama-tv , sleeping beauty and have a quality conversation with mr.W, what a day…!!!
Lemme tell u sumthin’
Beberapa minggu belakangan ini saya kangen berat dengan suasana Busan, for sure that I’ll go there for vacation someday. Dan kesemuanya bermuara pada om Noka yang tiba-tiba nelp saya dan mengatakan sedang ada di rumahnya di depok dan mengajak untuk menyiapkan waktu untuk jumpa fans.. huahhhaaa… rencana indah itu baru terwujud kamis kemaren, ngumpul bareng sama anak-anak perpika lainnya yang kebetulan sedang berlibur dan anak-anak exchange yang pernah tinggal di korea untuk beberapa waktu lamanya. Berhasil ngajak om Don juga, kenalan sama mas Ifa dan mas Riza, yang dari dulu cuma denger namanya doang, lol…
Jumat dan sepanjang malam hampir mendekati waktu sahur, masih teronggok dengan manis di meja rapat yang sempat memberikan efek ngantuk yang luar biasa. Demi STP yang lebih baik kata mereka, dan saya cuma manggut tanda setuju.
Sabtu, dan menghadiri acara pernikahannya Evan dan Anne… senang banget ngeliat mereka berdiri di podium sana. Evan ampe bengong pas liat penampakan saya, hahhaahaa… seandainya ada Hilda.. miss u much my romettt. To AnneVan--- happy marriage life, may God bless ur family, love everlasting each other.
Finally, ketemu sama tante Janti dan si cantik Shada, she’s really cute. Kesempatan juga nyubit-nyubitin si mr.W sambil nunjuk-nunjuk si cantik shada.. hahhaaa.. Dan ada mba Defri yang baru mendarat di Jakarta dan langsung meluncur ke venue, senang deh.
Minggu, tergeletak dengan sangat tidak terhormat di depan TV dan menonton seharian, dan berpura-pura lupa bahwa ada deadline yang menunggu senin pagi ini….
Dan sekarang….
Otak dipaksa melek sampai pagi untuk menyelesaikan semuanya… and thanks God, I love being alone in the dark, like this… aku dan malam, jiwa yang menyatu dalam hentakan detik demi detik.
Di beberapa bulan terakhir ini saya banyak mengalami kejadian yang penting dalam hidup saya.
Bagaimana menata hati saya akibat musibah pencurian yang terjadi, mengikuti sesi pencerahan dari kawan saya ga pernah bosen-bosennya beri semangat sampai-sampai saya bingung membedakan antara ikhlas dengan pasrah.(candaaaaa.. )
Bagaimana di minggu-minggu yang full kegiatan saya disiksa oleh berbagai emosi jiwa yang dengan sangat nyata tergambar dari muka yang semakin mengecil, *kalo saya sebut langs*ng, akan banyak cewek-cewek yang minta resep diet ke saya. Lol
Dan
Bagaimana saya bisa berterimakasih untuk umur yang tak lagi muda dan kesehatan sepanjang masa serta kerja keras yang tak pernah berhenti. And I was happy spending this weekend with watching Korean drama-tv , sleeping beauty and have a quality conversation with mr.W, what a day…!!!
Lemme tell u sumthin’
Beberapa minggu belakangan ini saya kangen berat dengan suasana Busan, for sure that I’ll go there for vacation someday. Dan kesemuanya bermuara pada om Noka yang tiba-tiba nelp saya dan mengatakan sedang ada di rumahnya di depok dan mengajak untuk menyiapkan waktu untuk jumpa fans.. huahhhaaa… rencana indah itu baru terwujud kamis kemaren, ngumpul bareng sama anak-anak perpika lainnya yang kebetulan sedang berlibur dan anak-anak exchange yang pernah tinggal di korea untuk beberapa waktu lamanya. Berhasil ngajak om Don juga, kenalan sama mas Ifa dan mas Riza, yang dari dulu cuma denger namanya doang, lol…
Jumat dan sepanjang malam hampir mendekati waktu sahur, masih teronggok dengan manis di meja rapat yang sempat memberikan efek ngantuk yang luar biasa. Demi STP yang lebih baik kata mereka, dan saya cuma manggut tanda setuju.
Sabtu, dan menghadiri acara pernikahannya Evan dan Anne… senang banget ngeliat mereka berdiri di podium sana. Evan ampe bengong pas liat penampakan saya, hahhaahaa… seandainya ada Hilda.. miss u much my romettt. To AnneVan--- happy marriage life, may God bless ur family, love everlasting each other.
Finally, ketemu sama tante Janti dan si cantik Shada, she’s really cute. Kesempatan juga nyubit-nyubitin si mr.W sambil nunjuk-nunjuk si cantik shada.. hahhaaa.. Dan ada mba Defri yang baru mendarat di Jakarta dan langsung meluncur ke venue, senang deh.
Minggu, tergeletak dengan sangat tidak terhormat di depan TV dan menonton seharian, dan berpura-pura lupa bahwa ada deadline yang menunggu senin pagi ini….
Dan sekarang….
Otak dipaksa melek sampai pagi untuk menyelesaikan semuanya… and thanks God, I love being alone in the dark, like this… aku dan malam, jiwa yang menyatu dalam hentakan detik demi detik.
Categories
me time...
June 14, 2011
up....
UP...
kalo yang aware di dunia per-blogging-an, kata ini ga akan asing lagi lah..
yup, UP merupakan salah satu brand shoe-online yang digawangi oleh Diana Rikasari -blogger jempolan yang sangat meng-inspirasi gw banget, muda-totalitas-punya pacar-kreatif dan kesemuanya mirip ama gw (batuk2 deh lo) cuma terakhir ajah yang gw blom yaitu "engaged" *halahhhhhhhh*
UP...
belakangan ini kata ini sangat membantu gw menghadapi situasi yang gw rasa sangat berat,pelik dan sulit.
memilih diantara kenyataan dan khayalan gw...
kadang emosi berderap-derap minta diluapkan,
kadang hanya tertawa miris kala hati tak sepenuhnya menerima.
UP...
gw udah, lo kapan???
kalo yang aware di dunia per-blogging-an, kata ini ga akan asing lagi lah..
yup, UP merupakan salah satu brand shoe-online yang digawangi oleh Diana Rikasari -blogger jempolan yang sangat meng-inspirasi gw banget, muda-totalitas-punya pacar-kreatif dan kesemuanya mirip ama gw (batuk2 deh lo) cuma terakhir ajah yang gw blom yaitu "engaged" *halahhhhhhhh*
UP...
belakangan ini kata ini sangat membantu gw menghadapi situasi yang gw rasa sangat berat,pelik dan sulit.
memilih diantara kenyataan dan khayalan gw...
kadang emosi berderap-derap minta diluapkan,
kadang hanya tertawa miris kala hati tak sepenuhnya menerima.
UP...
gw udah, lo kapan???
Categories
me time...
March 14, 2011
Indonesia dan dua bulan yang membingungkan…

Dalam hitungan waktu, harusnya saya sedang mempersiapkan perlengkapan saya
menjelang wisuda esok hari.
Tapi apa daya, saya malah dihadapkan dengan segala ketidakpastian, keragu-raguan,
dan sebagian dari pepesan kosong tentang mimpi di negeri ini.
Saya tidak bisa bergabung dengan dua sahabat saya Hilda Park dan Byul Nim,
yang masing-masing akan merayakan pencapaian
masing-masing sebagai sarjana dan mahasiswa S2.
Selamat untuk mereka.
Kalo beberapa hari yang lalu saya menyampah di twitter,
yang katanya sesepuh di korea sana saya sedang mengalami kekecewaan yang mendalam,
saya katakan lebih jelas lagi: ini justru bentuk keprihatinan yang mendalam.
Kalau kata lelaki saya, banyak kali orang kita masih mengidap penyakit
: mental yang belum siap.
Belum siap secara terbuka menerima perubahan bahwa manusia mulai beralih
dari yang tadinya mengejar pencapaian kesuksesan dalam finansial,
kini belajar untuk menemukan “passion” + “purpose” = life
saya sedang mengejar passion saya itu.
Indonesia dan saya yang sedang kebingungan dengan kehidupan di negara ini,
ketidakmampuan saya membayangkan seperti apa negara ini 40 tahun yang akan datang,
bukan bagaimana negara ini 40 tahun yang lalu….
Ketidakmampuan saya menguraikan “beban sosial”
Yang mengukur suksesnya pencapaian hidup berdasarkan “angka materi” fantastis yang terkumpul
Saya hampir terjebak ditengah misi dan visi hidup saya
Membuat saya harus berhenti sebentar, menghela nafas dalam
Kata sahabat saya di kantor, “kamu orang yang ga pernah mau menyerah, Li”
Saat saya pernah berkesah, “saya ingin berehat sejenak, Nug!”
Ah, lagi-lagi saya diberi celah untuk mulai memanaskan mesin otak saya.
Kadang saya benci dengan paham idealis saya,
Terjebak mirip kisah John Rock-si penemu pil KB
Terjerumus gagasan “alami” tadi
Terdorong oleh hati nurani yang terdalam
Rasanya saya ingin kembali ke titik nol lagi
Menemukan kekuatan penuh untuk mewujudkan mimpi saya
Seperti dulu: di atas pesawat Korean Air, dini hari dalam penerbangan ke Busan
Categories
me time...,
motivation
December 07, 2010
mama....

Kurang lebih 20 hari lagi, aku akan berada di tempat yang menjadi kerinduan selama hampir 2 tahun terakhir ini. Untuk urusan menahan rasa rindu, saya cukup bisa diandalkan. Saya bukan type “homesick-person”, waktu 8 tahun menjauh dari yang namanya orang tua, bukan soal besar bagi saya. Mama, adalah satu-satunya orang yang saya pengen kasih pernghargaan setinggi-tingginya untuk pembentukan karakter hidup saya. Dia, adalah wanita konservatif yang memegang teguh adat dan agamanya. Bicaranya keras dan kadang sangat pemarah. Dia sosok guru yang ditakuti kalo ga salah di sekolahan, makanya mama selalu jadi Guru Kelas VI, mungkin mereka percaya mama mampu meng-handel kelakuan anak SD yang sudah mulai nakal di usia segitu.
Bagi saya, mama adalah seorang sahabat paling dekat sekaligus paling jauh. Waktu masih sekolah di kampung dulu, saya dan mama bisa ngobrol berjam-jam di teras rumah sehabis makan malam. Kami bahas apa saja, ngobrol tentang apapun, saya rindu masa-masa itu. Sejak kecil saya selalu memilih sekolah yang berbeda dengan abang dan adik saya, yang biasanya lebih jauh dari rumah. Mama ga pernah protes, dia mendukung apapun pilihan saya. Sikap mama yang galak tadi, membuat saya tak pernah bisa membantah apapun perkataanya, membuat saya tak punya kesempatan sekedar bermanja-manja seperti abang dan adik saya. Khusus buat saya, mama akan memberikan saya prioritas penuh untuk mengatasi apapun permasalahan saya, katanya “hanya kamu anak mama yang ga pernah ngeluh, masa cuma masalah kecil kamu ga bisa ngatasinya, ayolah kak, beresin sendiri yah!!”. Hingga sampai urusan memilih perguruan tinggi pun mama percayakan sepenuhnya ke saya. Syukurlah, dengan itu semua, saya bisa mantap mengatakan bahwa pilihan saya untuk masuk STP aka Sekolah Tinggi Perikanan, bukan pelarian dari cita-cita saya, tapi bukti bahwa saya harus memilih, untuk meneruskan pendidikan dan melewati tahapan membuat keputusan. Mama hanya memeluk saya saat melepas saya merantau ke Jakarta, saya tidak menangis seingat saya pas lagi pamitan. Saya justru bersemangat menyongsong sebuah harapan yang masih abu-abu itu.
Selama menjalani masa perkuliahan dan masa melelahkan dengan embel-embel taruni, hubungan saya dan mama tak pernah terganggu. Dulu jamannya handphone blom selumrah sekarang ini, komunikasi kami berlangsung di wartel tiap hari minggu, sehabis pulang gereja. Kebiasaan itu pun mendadak berubah sejak saya punya pacar semasa kuliah. Yah, mendadak hubungan kami berjarak, makin jauh. Penyebabnya adalah pacar saya berbeda suku dan agama dengan saya. Ketidaksukaan mama dan pemikirannya yang begitu sempit tentang memahami arti perbedaan membuat saya sakit. Saya mendadak jadi pendiam dengan mama, percakapan kami mendingin apalagi kalo mama menyinggung soal pacar saya. Saya mulai memberontak. Saya berhenti menceritakan apapun yang sedang saya alami. Rindu? Pasti. Apalagi ada perasaan iri saat mendengar cerita teman-teman saya, bagaimana tentang pertemuan keluarga dengan pacar mereka. Saya tak pernah melakukan hal itu sekalipun.
Seringnya kami berbantah-bantahan justru membuat saya makin sadar kalo sebenarnya sifat-sifat mama itu paling banyak menurun ke saya. Mama selalu menanamkan sifat yang teguh imannya, ketekunan dalam belajar, dan memahami adat istiadat. Dan justru hal-hal itulah yang menjadi dinding pemisah dengan mama, kefanatikannya dengan agama dan ke konsevatifan-nya membuat saya susah memberikan pemahaman tentang memaknai perbedaan tadi.
Sampai pada saat tawaran beasiswa ke Korea menghampiri, saya sudah yakin bahwa mama pasti mengijinkan saya, apalagi kalo soal “pendidikan,” beliau tau saya menggilai dunia itu. Saat itu, dalam perjalanan menuju gate-departure, saya menelpon mama. Saya bilang, “mama, kaka mau berangkat dalam hitungan menit lagi, kaka akan jaga diri sampai nanti bisa kembali ke Indonesia, kaka sayang mama.” Tiba-tiba saya nangis tersedu-sedu di keheningan malam di pukul 10pm itu. Seakan kerinduan yang selama ini saya bentengi itu mendadak lebur kala itu. Mama pun tak kalah tangisnya, dia berkali minta maaf kalau selama ini keras sama saya, katanya kaka adalah kebanggaan mama, kebanggaan keluarga. Sebelum saya tutup telpon, saya hanya bilang :”Mom, I love you so much!!!”, and she said: ”Me too.” Sudah 2 tahun kami tak pernah sedekat ini, dan malam itu adalah awal kontak bathin itu kembali memendek.
Sosok mama yang keras sekaligus istri yang setia, membuat saya selalu mengidolainya. Kadang mama suka ngomong ke saya, “Bapak kemaren sakit, ga mau makan sampe sekarang, coba kau ngomong ke Bapak, marahin dulu.” Hahahhahaa..saya sudah terkenal spesialis “mama-cerewet” di rumah, artinya kalo mama sudah nyerah sama kelakuan Bapak saya yang mulai ke kanak-kanakan, atau si adek saya yang suka kecentilan, saya di paksa turun tangan untuk marah-marahin. Kecuali dengan abang saya, dia dan saya punya kisah tersendiri, lain waktu akan saya ceritakan. Saya berharap semoga kedekatan ini dapat terus bertahan.
Mama yang memang keras sama anak-anaknya terutama dengan saya, sebenarnya adalah bukti betapa dia mencintai kami. Pemikirannya yang belum moderat mungkin akan cukup sulit untuk dihancurkan. Itu adalah pilihan mama. Saya memang tak ingin berharap mama banyak berubah, saya cuma pengen mama kelak menerima jalan pilihan saya dan percaya anaknya mampu menjalaninya dengan baik sama seperti yang dia telah terapkan ke saya selama ini, di hidup saya yang ke-26 tahun ini.
I love u, Mom. And I hope u always happy with your life and my life. Be happy for with every choice I made. May God Bless u, Mom!!!
Categories
me time...
November 27, 2010
advent-arbab-rindu

Dan tak terasa minggu ini sudah memasuki minggu advent I, minggu persiapan menyambut kelahiran Tuhan Yesus. Kalau dulu waktu masih sekolah di kampung, masa advent ini punya arti tersendiri bagi saya. Masa advent yang artinya masa penantian, menunggu kelahiran Tuhan Yesus, memberikan saya waktu untuk merenung.Kita kembali diajak untuk mensyukuri apa yang sudah kita lalui setahun belakangan ini, menelaah perjalan hidup. Natal selalu diidentikkan sebagai puncak perayaan itu, padahal Natal adalah bagian dari proses penantian itu tadi.
Bagi pengikut Kristus, Advent sekaligus mengandung dua makna penting: Merayakan masa penantian kelahiran Kristus, sekaligus merayakan masa penantian kedatangan Kristus sebagai Hakim Adil pada kedatangan-Nya yang kedua.
Kita percaya Tuhan Yesus datang kedunia ini untuk menebus kita yang berdosa ini. Menyelamatkan kita dari kebinasaan.
Tak terasa pula ini adalah tahun ke-empat merayakan momen Natal tanpa keluarga terdekat, mami dan bapak yang selalu saya rindukan, abang dan adik perempuanku yang kusayang. Memang kasih tak mengenal jarak, apapun itu. Karena itu saya selalu merasa dekat walau secara nyata kami terpisah ribuan mil dan saya sendirian di negara yang diambang perang ini.
Siang ini, ditengah hembusan udara hangat dari heater di ruang kerjaku, tiba-tiba ada rasa rindu yang menyeruak tak tahu malu tak kala senandung lagu ARBAB yang ku youtub-ing menggema melalui headset. Ah, merindui masa muda dan teman-teman ABG ku saja. Malam minggu di gereja bersejarah dengan iringan petikan gitar dan senda gurau kala latihan paduan suara. Yup, paduan suara adalah sebagian dari nafas-ku, setengah dari jiwaku. Bergetar dan merinding kala mendengar paduan suara, kadang sampai ingin menangis pun. Menjajaki kenangan masa muda, hahahha.
Mencoba ber-nostalgia melalui lagu ini:
Categories
me time...
November 25, 2010
my thesis presentation!
Minggu malam kemaren sempat menuliskan status diakun FB :”saya mau disidangkan besok”. Seketika kolom komen langsung dipenuhi dengan teman-teman yang memberi semangat seraya mengucapkan kata-kata yang menguatkan. Malam itu saya sangat gugup ditambah lagi mengingat-ngingat waktu sidang hanya dalam hitungan jam saja. Saya mencoba untuk tetap focus walau saya merasa sangat lelah dan tenggorokan mengering kebanyakan latihan bercuap-cuap. Bagian yang paling riweh ada adalah nyiapin penampilan saya, hahhahaa. Memastikan bahwa suhu udara tak terlalu dingin karena seharian hanya akan memakai dress dan high-hills saja.
Siang itu, jadwal sidang dimulai pukul 03pm, saya diurutan ketiga setelaj Byul-nim(Korea) dan Zafer (Turki) setelah itu ada dua orang PhD-candidate yang juga akan sidang. Saya sebenarnya kelaparan, entah kenapa semakin nervous malah makin lapar, hahaha. Sidang berjalan cukup alot dan agak lama, saya yang duduk di bagian belakang makin was-was saja membayangkan kalo saya di tanyain dan ga bisa jawab di depan Prof dan kawan-kawan satu lab saya. Senior saya berulang kali memberikan semangat, membangkitkan rasa percaya diri. Setelah dua orang selesai dengan debat panjang, akhirnya giliran saya. presentasi berlangsung dengan lancar dan sedikit gugup, berusaha tersenyum beberapa kali dan mengadakan kontak mata dengan ketua sidang. Selama presentasi saya justru menunggu kapan si ibu ketua sidang ini menyela saya. Akhirnya sampai di bagian “Thank you for ur attention”, si ibu ketua masih senyum-senyum, padahal saya rasanya pengen udahan, lemes banget ternyata, hahahhaha.
PUJI TUHAN, semua berjalan dengan sangat lancar dan cepat, si ibu ketua sidang cuma melemparkan satu pertanyaan dan memberikan saran, selebihnya dia setuju dengan thesis saya. gilakkkk.. padahal selama penyusunan thesis, saya itu selalu dikatain lelet sama senior saya yang mau sidang PhD, say amah sebodo teuing lah, “alon-alon asal klakon” pikir saya waktu itu. dan terbukti, saat sidang semuanya berjalan sesuai dengan harapan saya. Terimakasih Tuhan Yesus.
Sesuai dengan adatnya korea kalo ada yang selesai sidang, malamnya langsung bikin party sampe yang elek. Tapi berhubung kami berlima sudah kelelahan setelah pulang dari Jejudo dan langsung nyiapin diri untuk sidang, akhirnya kami menunda party sampai waktu yang belum ditentukan.
Terimakasih Tuhan, untuk penyertaanMu di muara perjalanan di dua tahun terakhir ini.
Terimakasih Tuhan, untuk mengabulkan setiap apa yang kuperlukan dan bukan yang kuinginkan.
Terimakasih Tuhan, untuk membiarkan aku mengalami keberterimaan atas tiap rancanganMu
Dan…
Terimakasih Tuhan, untuk pelajaran mengelola sabar dan rindu dalam satu paket sampai pada waktunya…
I miss everyone in Indonesia, can’t wait to go back soon!!!
Categories
lab-life,
me time...
Suatu Ketika di Jeju-do

Sudah seminggu terbengkalai otak tanpa merangkai kata-kata, ternyata kangen juga yah!! Baiklah mari saya ceritakan apa yang terjadi seminggu terakhir ini. Bisa dibilang ini minggu hectic antara jalan-jalan, sidang dan leyeh-leyeh…*halah.
Rabu, 17 Nov
Selasa minggu lalu saya udah ceritakan kalo mahasiswa Indonesia yang ada di PKNU mengadakan acara amal yang diberi nama #onedayforindonesia itu? Nah, besoknya Rabu (17 Nov), bersama teman-teman satu lab kami menyambangi Pulau Jeju. Ada symposium tahunan dan kebetulan Prof kami adalah Ketua Panitia-nya, jadi beliau membawa kami serta merta untuk dijadikan bahan “display”. .. hahhaa, maklumlah lab kami yang berpenghuni sekitar 25-an orang itu yang berasal dari 6 negara, cukup meningkatkan gengsi si Prof apalagi dia lebih senior dibanding Prof2 lain yang bakal hadir di symposium itu.
Pulau Jeju disebut-sebut sebagai Bali-nya Korea, selain terkenal sebagai tujuan wisata yang muahal, juga sebagai tempat favorit bulan madu bagi kaum muda. Ihhhiiirr.. Yak saya juga masukin Jeju-do sebagai salah satu target tujuan honeymoon selain Bali dan Jepang…*sok-sokan..biarin!!!
Seperti prediksi yang sudah-sudah, jalan-jalan sambil symposium kali ini [dibalang Prof pake prosiding, hahahha] bakalan amat sangat membosankan, pasti!! Jadwal pesawat adalah pukul 03.00 pm, tapi kami harus diburu ke bandara yang cuma ditempuh sekitar 15-20menit itu di pukul 11.30 am, akibatnya saya sebagai warga kost2-an yang ga sempat sarapan harus menahan lapar dan dahaga -lebay- sesampai di bandara. Pengganjal terpaksa membeli secangkir “Hot choco” dan sekerat donat, sungguh sekarat rasanya menahan lapar di awal musim dingin kayak gini. Setelah ketua rombongan mulai menghitung-hitung pasukannya, kami digiring masuk ke badan pesawat Jeju-air. Penerbangan berlangsung hanya 45 menit, dengar-dengar kalo naik kapal bisa sekitar 12 jam perjalanan. Duduk pas deket jendela bikin saya lebih leluasa menatap pemandangan bawah yang spektakuler, sekalian menguji tingkat ke-phobia-an saya terhadap ketinggian. Berniat ambil foto-foto awan juga, sialnya kaca jendelanya jorok bener, akhirnya saya pun cuma berhasil jepret dengan hasil standar..*mulai nyalahin kamera SLR yang memang masih oon banget menggunakannya!!!. Oh yah, pas take-off, saya pun harus menutup daun telinga rapat-rapat, berdasarkan pengalaman, bahwa saya ternyata mengalami Oklusi Tuba, apa itu?
Oklusi Tuba atau adanya sumbatan pada saluran tuba yang berada di telinga. Tuba eustachius / Eusthacian tube adalah saluran yang dimulai dari telinga tengah dan berakhir dibelakang hidung atau didaerah pangkal tenggorok. Saluran ini berfungsi untuk menyeimbangkan tekanan udara di telinga tengah dan tekanan udara di luar. Bila terjadi perbedaan tekanan maka saluran ini akan membuka dan membiarkan udara masuk ke telinga tengah sehingga tekanan menjadi seimbang.
Harusnya saya menggulum permen atau mengunyah buble-gum atau menelan ludah berulang-ulang sehingga tuba terbuka dan udara luar dapat masuk ketelinga bagian tengah. Diantara beberapa alernatif itu, saya lebih memilih menutup telinga rapat-rapat dengan menguap berulang-ulang, hahahhaa *udikk!!!.
Mendarat di “Jeju International Airport”, sempat foto2 juga di TKP, trus melototin ibu ketua rombongan yang riweh sama mobil sewaaan. Ibu ketua rombongan saya ini emang sangat panikan, mood-nya bisa berubah-ubah seketika dan kebiasaan buruknya adalah kami harus tetap di barisan ga boleh kemana-mana sementara dia suka menghilang entah kemana, sebel banget.
Hampir sejam juga cuma nongkrong di bandara dan mereka diskusiin hal-hal yang ga penting dan yang pasti kami sudah lapar akut. Dua mobil sewaan yang berisi mahluk “alien” dan native pun berpisah di gate keluar, Yess!!! Kami pun memulai perjalanan keliling Jeju-do sesempat yang kami bisa. Dr. Lee sebagai supir teladan kami, mengajak untuk sekedar muter-muter di sekitar pantai, dia sangat suka dengan Jeju-do, jadi walau sudah berkali-kali kesini dia selalu berkeliling jadi tak heran dia fasih menjelaskan kondisi Jeju-do ke kami-kami yang baru kali pertama kesini.
Sempat foto-foto sekitar pantai, dan menikmati sunset yang ga sampe 5 menit, indah banget!!! Suhu di Jeju-do ternyata lebih hangat dari prediksi sebelumnya, padahal saya udah memuat segala-gala lapis dua, dengan bayangan Jeju-do yang menggigil, ternyata salah besar. *disalah2in pas liat bawaan yang besar dan berat.
Tempat penginapan berupa bungalow, tapi mereka menyebutnya dengan “mansion”, entahlah. Tapi dibandingkan tempat-tempat penginapan kalo kami sedang MT aka Member-Training, penginapan ini yang paling kerenlah.
Masih diseputaran lapar dan meningkat ke level kelaparan, akhirnya kami baru bersantap malam dipukul 08.00 pm, dan seketika saya melahap karbohidrat beberapa sendok, langsung lemas rasanya badan, loh koq?
Masih ingat dulu pernah bahas “hipoglikemia” bareng teman, nah sepertinya saya terkena “hipoglikemia reaktif”, dimana tubuh langsung lemas setelah mengkonsumsi karbohidrat, kadar insulin saya sepertinya tidah stabil. Kejadian ini sudah berlangsung hampir sebulan sejak hectic2-nya beresin thesis. Saya pun langsung jalan-jalan sekitar penginapan sekedar menetralkan kondisi tubuh yang sedikit sesak dan lemas. Setelahnya saya tepar bukan karena mengantuk tapi karena saya terlalu lemas padahal hanya sekedar duduk dan menonton telivisi. Padahal sedang ada mahluk gagah yang sok cool dari kampus lain yang juga bergabung di mansionnya kita. Sempat dikenalin kalo dia itu mirip sama perenang cowok yang terkenal di korea, saya mah cuma angguk-angguk sambil lirak lirik.. so cool-damn…. hahhahhaa
Kamis, 18 Nov 2010
Sampai di lokasi symposium, saya banyak berterimakasih untuk pemilihan topik presentasi yang beberapa ada hubungannya dengan thesis yang senin depan akan disidangkan dan lainnya adalah topik2-interest saya. Begitu jadwal makan siang, saya, mba Ratih dan Himaya dari Srilanka pun bergegas mengisi amunisi yang hampir akut ini. Dan lagi-lagi saya masih lemas, tapi masih bisa di-handle koq. Symposium berakhir di pukul 17.30pm dan setelahnya adalah makan malam bersama. Sipppp…

Makan malam bersifat “all u can eat”, makan sepuasnya tapi pake manner dikitlah maklum ada banyak Prof juga yang meja-nya ga jauh dari kita. Setelahnya bisa ditebak, seluruh peserta symposium langsung di giring ke Bar yang punya tempat pembuatan beer sendiri yang dinamakan “ brewing, dibaca /bruwing/)”, kami diajak mencicipi beer yang dibuat langsung. Padahal sungguh mati saya ini tidak suka minum, pikir saya minuman berasa sepet dan pahit kayak gitu ngapain juga dibela-belain di teguk, mending minum “vodka” saja. But so sorry for this time, I can’t say NO to beer!!! Perkaranya, kapan lagi nyicipin beer Jejudo, hhahhahaha. Rasanya: keren banget, beda sama C*ss atau H*te yang biasa kami minum. Disinilah kami mendekam lama banget, mari dibayangkan, dari wajah ceria dan senyum lebar, sampe muka sembab dan sedikit kantuk plus bosen. Tapi kesal saya masih sedikit terobati karena saya dan si cool masih sempat lirik-lirikan pulak. Hahahhaa!!! Setelah para Prof akhirnya kelelahan menenggak beer dan tertawa, kami pun diajak bergegas meninggalkan mekju-jib itu, berakhirkah? Tentu saja tidak, party menenggak beer masih berlanjut di mension kami, dengan beberapa kenalan orang korea baru. Bagian ini saya tak peduli, yang penting si cool masih ada, *saya benar2 mabuk si cool itu sepertinya.
Jumat, 19 Nov 2010
Pagi ini saya dan kawan-kawan bangun agak telat, tadi malam saya ga bisa tidur nyenyak. Pasalnya saya merasakan kalo suhu penghangat ruangan itu terlalu panas, rasanya hampir terbakar. Mungkin ada hubungannya setelah menenggak beer barangkali, jadi suhu tubuh naik dan malah jadi tak nyaman. Ini hari terakhir di Jeju-do, saya pun berniat menuju kamar mandi untuk segera mandi pagi agar tidak tampak lusuh di depan si cool. Dia belum bangun pas saya keluar kamar, barangkali dia minum sampai menjelang subuh pikir saya. Menunggu antrian ke kamar mandi rasanya bikin mati gaya saja. Terpaksa saya ikutan sarapan dengan tampang lusuh binti kucel banget sedangkan si cool ternyata sudah rapi-jali… siaaull!!!!
Pukul 11.30 am, kami pun meninggalkan mansion menuju bandara, jadwal penerbangan kami lebih cepat 1 jam dari kemaren pas menuju Jejudo. Ternyata Tuhan baik bener deh, saya pun berada di satu mobil sewaan bareng si cool pulak. Tadinya kepikiran apakah kita berada di satu penerbangan atau engga. Setelah berpisah di parkiran, saya kehilangan jejak si cool, karena senior2 langsung ngajak jalan cepat-cepat ke loket penukaran tiket.
Untunglah kesalnya saya tiba-tiba kembali ke jalurnya, ketika dari arah timur saya liat rombongan si cool mengarah ke loket kami, ternyata mereka juga barusan tukar tiket di loket KoreanAir, hugs!
Karena masih ada waktu sekitar 1,5 jam sebelum departure-time, kami pun memutuskan untuk keliling di bandara saja, siapa tau nemu barang lucu yang murah,, *halah. Menikmati secangkit hot-choco [lagi] dan memperhatikan sekeliling, ber-gosip sampai menguap. Setelahnya kami memutuskan menuju gate langsung, dan saya udah ga ketemu sama si cool itu, padahal waktu di loket pengambilan tiket dia berdiri tepat di sebelah saya beberapa saat, dan saya sok jaimnya lihat2 hasil jepretan kamera saya, *sok sibuk!!!! Hahahahha
Setelah memastikan bergabung dengan rombongan lagi, saya, mba Ratih dan Himaya langsung menuju “duty-free shop”, lihat-lihat mana tau ada yang cocok di hati. Setelah muter-muter sekian menit, akhirnya saya menjatuhkan pilihan untuk membeli Parfum “Anna Sui”, wanginya keren banget dan harganya bikin keliyengan juga, hahahaa.
Waktunya kembali ke Busan, penerbangan 45 menit yang penuh dengan turbulence, akhirnya mendarat mulus di Gimhae-Airport. Dan entah kenapa saya tiba-tiba kangen sama Busan, kangen sama meja kerja saya, kangen sama aparte saya. entahlah..!!!!
Dan saya cuma punya waktu 2 hari untuk persiapan sidang thesis saya. Rasanya badan mau ambruk saja,, tapi apa mau dikata, saya terpaksa harus puasa tidur sampai hari senin.
*tulisan paling panjang, cihhhh..
NB: bagian yang cerita ttg si cool itu jangan terlalu ditanggapin yah? ini cuma bagian pemanis saja, ibarat mimpi, si cool itu diibaratkan bunga tidur saja, hahhaha
Categories
koreana,
me time...
October 15, 2010
serendipity...

Kalau saja aku tak diterima di Sekolah Kedinasan, menemukan indahnya kebersamaan di asrama. Kalau saja aku tak lulus dengan predikat terbaik dan langsung memperoleh label “pekerja” (*sedikit jumawa!!!). Kalau saja, keputusan yang berbalik hanya dalam waktu 24jam yang seharusnya mengantarkan aku menginjak Eropa, malah mengarahkan langkah ke Korea. Mungkin aku tak akan pernah punya kekuatan besar untuk mengubah jalan hidupku lebih berguna. Merekam tiap fase hidup lebih bermakna, lebih down-to-earth.
Ini juga refleksi dari carut-marut hubungan percintaan-ku. Kalau saja kita tak pernah berkenalan. Kalau saja saat itu tak ada Promo “ngalong” Ment*ri 00-05am. Kalau saja kau tak berani mengajakku kencan. Mungkin kisah kita tak akan pernah ada. Lalu, kita tertampar oleh kenyataan, terjuntai oleh prinsip dan tersadar oleh hirearki hidup, “yang berbeda tak mungkin bersama”. Ahh, dunia memang selalu punya cara untuk menghalangi cinta kita, walau kita selalu menamainya “tulus, suci , murni tapi bukan buta, ego apalagi acuh”.
Kalau saja aku tak pernah mengunjungi situs itu. Kalo saja aku tak pernah tertarik saat membaca nama pena-nya. Kalau saja cacahan email-nya tak ku kirimkan pesan. Dan kalau saja, kami tak pernah terhubung dengan G-talk maupun YM, mungkin ceritanya akan lain. Mungkin alurnya bisa berubah lagi. Mungkin aku tak pernah tau kalo sastra itu indah saat dinikmati dengan secangkir caramel cappuccino dan tiramisu, walau terkadang permainan diksi membuatku meraba-raba arti tulisan-nya.
Tapi bukankah tak ada yang serba “kebetulan?”. Ah, aku percaya, karena memang tak ada yang serba kebetulan di dunia ini, semua pasti sudah di gariskan oleh Yang Kuasa, pemilik alam dan ciptaannya. Lalu, selajutnya bagaimana??
Tak perlu lelah-lelah memikirkan lanjutannya; dinikmati, disyukuri, dilintasi. Bukankah dunia ini hanyalah perlintasan sesaat menuju kekehidupan yang kekal?. Dan kalo saat ini, aku, kamu, kita, mereka dan kalian saling terhubung oleh suatu dan lain hal, itu semua terjadi karena memang begitulah semestinya.
Dan kalau semua berujung pada perpisahan, itulah fase terminasi-nya. Rangkaian kisah, peristiwa, cerita, papasan itu adalah sequencing-nya.
#ter-inspirasi oleh lirik lagu Have You Ever Needed Someone So Bad-Def Leppard!!!
Categories
me time...
Subscribe to:
Posts (Atom)
